Pemerintah Daerah DIY

Biro Tata Pemerintahan Setda DIY

Get Adobe Flash player
Home

Nama rupabumi adalah nama yang melekat pada unsur rupabumi dimaksud, baik unsur alam maupun unsur buatan.Secara aktual, sebagian unsur rupabumi khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan obyek warisan budaya, baik yang berupa benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan cagar budaya, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan sektor pariwisata di daerah.

"Obyek pariwisata yang melibatkan warisan budaya disebut Pariwisata Pusaka, yakni bentuk pariwisata yang menyatukan kegiatan pendidikan, wisata, pelestarian budaya maupun alam dan aktifitas ekonomi", demikian disampaikan Plt. Kepala Biro Tata Pemerintahan Setda DIY saat membuka acara Rapat Verifikasi Nama Rupabumi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang diselenggarakan Badan Informasi Geospasial (BIG) di Hotel Grand Aston, 17 September 2018.

Sektor pariwisata kini menjadi industri yang paling besar di dunia bila dilihat dari jumlah stakeholder yang terlibat maupun uang yang beredar di dalamnya. Bersama-sama dengan sektor pertanian dan industri manufaktur, pariwisata menjadi ujung tombak perekonomian dunia. Berbagai penelitian mengenai industri pariwisata akhir-akhir ini telah sampai pada kesimpulan bahwa pariwisata pusaka adalah bagian dari industri pariwisata yang paling maju perkembangannya. Hal ini bisa terlihat dari jumlah penyelenggara (negara, lembaga dan operator/penyelenggara), dan terutama dari segi jumlah wisatawannya.

Menurut Departemen Perdagangan Amerika, pada tahun 2004, terdapat lebih dari 10,6 juta wisatawan yang melakukan kunjungan antar negara dan berpartisipasi dalam kegiatan wisata pusaka selama mereka berada di negara tujuan wisata. Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, jumlah wisatawan yang mengunjungi obyek-obyek warisan budaya, seperti Kraton Yogyakarta, Tamansari, Museum Benteng Vredeburg, dan Makam Raja-raja Imogiri juga menunjukkan peningkatan. Data Statistik Kepariwisataan Tahun 2016 yang dipublikasikan oleh Dinas Pariwisata DIY menunjukkan, jumlah wisatawan (baik mancanegara maupun lokal) yang mengunjungi obyek-obyek tersebut meningkat, dari 1.186.065 wisatawan di tahun 2012, menjadi 1.555.347 wisatawan di tahun 2016.

Dalam industri pariwisata, paling tidak terdapat 7 (tujuh) unsur pembentuk, salah satunya adalah informasi wisata yang di dalamnya mencakup informasi obyek wisata. Informasi obyek wisata tentunya memerlukan kesepahaman seluruh stakholder terkait, dimulai dari informasi yang sifatnya mendasar seperti nama obyek wisata, arti nama, asal bahasa, sejarah nama, dan posisi serta lokasi obyek wisata. Oleh karena itu, perlu dilakukan pertemuan antara Pemerintah Pusat melalui Kementerian/Lembaga yang membidangi, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota yang membidangi untuk bersama-sama menelaah data nama rupabumi khususnya yang terkait warisan budaya dan pariwisata, sehingga terwujud data dan informasi yang akurat mengenai nama rupabumi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada kesempatan ini, masing-masing Kabupaten/Kota di DIY mengusulkan 864 data nama rupabumi warisan budaya. Data-data tersebut diolah menggunakan aplikasi Web GIS SAKTI (Sistem Akuisisi Data Toponim), dengan total data yang terverifikasi sebanyak 689 obyek, yang dituangkan dalam Berita Acara (BA) No. 18.01/VKK-PNR/BIG/IX/2018.


Unduh BA dan Materi Rapat : http://bit.ly/TOPONIM2018