Pemerintah Daerah DIY

Biro Tata Pemerintahan Setda DIY

Get Adobe Flash player
Home

HARI JADI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Kemis Pon tanggal 29 Jumadil’awal tahun Be 1680 (Bertepatan 13 Maret 1755 Masehi)

 

 

Keberadaan hari jadi memiliki arti penting bagi masyarakat dan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memantapkan jati diri, sebagai landasan yang menjiwai gerak langkah ke masa depan. Penetapan hari jadi juga akan melengkapi identitas diri dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencerminkan nilai-nilai budaya yang luhur dan nilai-nilai perjuangan yang menjadi keteladanan dan ciri khas sikap hidup masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Citra dan kekhasan kewilayahan Daerah Istimewa Yogyakarta terletak pada keberadaan Kerajaan Mataram Islam yang beribu kota di Kotagedhe dan juga Kasultanan Yogyakarta sebagai keberlanjutannya serta bersifat Indonesia sentris dan bebas dari aspek-aspek kolonialisme. Hal ini sangat penting untuk menunjukkan peran dan kedudukan Daerah Istimewa Yogyakarta yang sangat menentukan keberlangsungan hidup dan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Berdirinya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sebuah perjuangan panjang Pangeran Mangkubumi melawan penindasan dan kekuasaan VOC, serta menentang adanya campur tangan VOC Belanda terhadap Mataram. Di saat Kerajaan Mataram Islam melemah karena digerogoti pengaruh VOC, Pangeran Mangkubumi tampil menjadi sosok yang memperjuangkan kedaulatan dan melawan penindasan VOC. Dimulai pada tanggal 17 Mei 1746, perlawanan bersenjata melawan VOC dilakukan selama 9 (sembilan) tahun hingga terjadinya Perjanjian Giyanti yang kemudian disusul dengan peristiwa Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peristiwa Hadeging Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat pada hari Kemis Pon tanggal 29 Jumadil’awal tahun Be 1680 bertepatan dengan tanggal 13 Maret 1755 sebagai tonggak sejarah yang monumental, unik dan signifikan. Pada waktu itulah  Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I memproklamirkan Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat (separo Nagari Mataram). Hal ini berarti juga menandai berdirinya pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan segala komponennya walaupun istana belum didirikan. Pada kesempatan itu Sultan Hamengku Buwono sekaligus mengumumkan secara resmi bahwa daerah kekuasaannya dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Alas Beringan Desa Pacethokan.

Dalam perjalanan sejarahnya Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam menghadapi penjajahan bangsa asing yang berusaha menancapkan kuku kekuasaannya. Di awal kemerdekaan Republik Indonesia, Nagari Ngayogyakarto Hadiningrat di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberikan sumbangsih yang besar dalam memberi dukungan bagi kemerdekaan dengan menyatakan bergabung ke dalam Republik Indonesia dan mempertahankan eksistensi Republik yang saat itu masih berusia sangat muda.

 

Semangat perlawanan atas penindasan dan kolonialisme yang telah ditunjukkan oleh dua raja besar Yogyakarta tersebut tidak dapat dipungkiri merupakan warisan dari Raja Mataram ketiga, yaitu Sultan Agung, dimana semangat perjuangan dan keberanian dalam melawan penjajah mengalir dalam darah kedua raja yang merupakan keturunan dari Raja Mataram terbesar tersebut.